Jumat, 26 Juni 2020

Kurikulum program studi pendidikan pancasila

| Jumat, 26 Juni 2020
Univeritas Ahmad Dahlan  (UAD) Yogyakarta membuka sekolah Kebangsaan untuk umum. Sekolah kebangsaan yang dipelopori oleh FKIP, program studi PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) memiliki kurikulum yang singkat, hanya 12 Jam Pelajaran.  Sekolah Kebangsaan angkatan pertama ini dibuka dilatarbelakangi keprihatinan yang semakin memudarnya pemahaman masyarakat terhadap Pancasila.

"Kita tahu masyarakat sekarang dalam kehidupan berbangsa dan negara semakin jauh dari nilai-nilai Pancasila, sehingga kita perlu bergerak dalam membentuk masyarakat yang Pancasialis," papar Dikdik Bachaqi Arif, M.Pd, Ketua program PPKn Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dalam keterangan tertulis yang diterima Kompasiana, Kamis (11/6) kemarin.

 Menurutnya, sekolah kebangsaan ini akan dilaksanakan secara serial pada hari Sabtu, 13, 20 dan 27 Juni 2020 melalui platform Zoom Webinar dan akan disiarkan langsung melalui You tobe PPKn dan TVMu. Peserta sekolah kebangsaan nantinya juga ditekankan untuk menulis esai pribadi sebagai produk sekolah kebangsaan. "Peserta juga bisa menulis artikel ilmiah," papar Dikdik Bachaqi Arif. "Jadi peserta sekolah kebangsaan, nantinya memiliki peran dan pemikiran yang perlu di konstruksikan,"tukasnya.

Dikatakan, kurikulum sekolah kebangsaan ini meliputi materi umum dan materi spesifik. Materi diberikan dosen-dosen yang kompeten di bidang kebabangsaan. Seperti, filosofi Pancasila, Nilai-nilai Pancasila di era globalisasi, negara Pancasila sebagai  Darul Ahdi Wa Syuhada. Daring sendiri akan dimulai pukul 09.00 hingga 12.00 Wib. Kemudian, serial kedua, materi yang dipaparkan antara lain membelajarkan Pancasila dalam lingkungan pendidikan dasar dan menengah, membelajarkan Pancasila dalam lingkungan pendidikan tinggi, dan menulis karya ilmiah/rtikel ilmiah.


Serial ketiga, peserta kebangsaan akan ditekankan kepada pengimplementasian nilai-nilai Pancasila, seperti membelajarkan dan mengimplemantasikan Pancasila dalam kehidupan masyarakat dan membelajarkan dan mengimplemantasikan Pancasila dalam lingkungan keluarga, dan terakhir menulis karya ilmiah. "Karya ilmiah bentuk esai pribadi dari peserta kebangsan nantinya akan dibukukan dalam bentuk buku yang ber-ISBN," papar Dikdik Bachaqi Arif.

Sedangkan karya ilmiah yang berupa artikel sebagai produk sekolah kebangsaan, akan kita masukkan dalam jurnal ilmiah di UAD yang juga memiliki nilai plus, karena jurnal kita sudah ber ISSN," tukas Dikdik menambahkan. Karena itulah, peserta kebangsaan akan mendapatkan dua keuntungan atau manfaat, yakni selain bisa menambah khasanah keimuan - terkait dengan nilai Pancasila, dengan sertifikat 12 Jam Pelajaran (JP), juga bisa memiliki buku antologi Membumikan Pancasila dan hasil karyanya masuk jurnal ilmiah yang dikelola UAD.

Sementara peserta kebangsaan sendiri, berasal dari pemerhati kebangsaan, mahasiswa PPKn, guru dan dosen. Pserta yang sudah tergabung dalam Whatshap Sekolah Kebangsaan UAD sudah tercatat 257 peserta sekolah Kebangsaan. :"Mudah-mudahan sekolah kebangsaan ini bisa memberi efek dalam membentuk karakter yang Pancasialis yang bisa mempelopori dalam menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam kehudupan di masyarakat, bangsa dan negara," tandas Dikdik Bachaqi . (Diq)

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar